sayurasem

Sayur Asem dan Kopi Susu

sayurasem

Fajar mulai menyingsing ketika kami masih berkumpul di Daksinapati, Jakarta Timur, (2/7/2013). Sekitar belasan orang duduk melingkar mengisi kekosongan dengan berbincang. Pagi itu, seorang kawan membuka obrolan membahas menu sarapan. Martini, namanya. Wanita asal Padang ini mengaku menggemari sayur asem. Sayur khas Indonesia yang terasa manis dan asam ini memang menyegarkan. Apalagi jika ditambah ikan asin dan sambal terasi. Ehm,, pasti nikmat.

Masakan berkuah itu berisi aneka sayuran. Ada jagung manis, kacang tanah berkulit, melinjo, labu siam, terung ungu, daun melinjo, kacang panjang, buncis, daun kol. Bumbunya pun terdiri dari beragam unsur. Mulai dari daun salam, lengkuas, buah asam, gula merah, terasi goreng, garam, bawang putih, bawang merah, kemiri, cabai merah.

Perbincangan pagi itu bukan tentang bagaimana sayur asem dibuat. Namun, Martini mengisahkan perdebatan di rumah makan Padang yang akan menyajikan sayur asem. Pemilik rumah makan meminta sayur itu harus pedas karena masyarakat Padang suka makanan pedas. Sementara sejumlah koki mengatakan bahwa sayur asem ya rasanya asem, bukan pedas.

Mereka pun rembukan untuk menentukan rasa yang akan dibuat. Sebagian berpendapat bahwa sayur asem harus pedas sebagaimana selera masyarakat setempat, sementara yang lain tetap berkukuh asem sesuai orisinalitas rasanya.

Musyawarah mandek, kata mufakat pun tak muncul. Akhirnya voting dilakukan untuk mengambil keputusan. Pemungutan suara atau voting ditempuh ketika mufakat melalui musyawarah tak bisa dicapai.

Dari hasil pemungutan suara, sayur asem pedas memperoleh suara terbanyak. Rumah makan tersebut akhirnya menyajikan sayur asem dengan rasa pedas. Ini merupakan suatu pembenaran yang memberi rasa baru bahwa sayur asem tidak harus asem manis.

Ibarat sayur asem yang terdiri dari beragam sayuran, masyarakat di Indonesia juga terdiri dari beragam suku, agama, ras, dan golongan. Negara ini memang dikenal sebagai bangsa yang majemuk, plural, heterogen, dan multikultural. Namun keragaman tersebut rentan dengan bermacam konflik yang bisa dipicu dari meluasnya diskriminasi atau diferensiasi sosial. Karena itu, pengakuan dan penghargaan terhadap masing-masing kelompok perlu dilakukan untuk mewujudkan harmonisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Begitulah kiranya pluralisme di negeri ini.

Di tengah obrolan, seorang kawan berkomentar. Keragaman di Indonesia berbeda dengan kemajemukan di Amerika. Ia mengibaratkan keragaman di negeri Paman Sam itu sebagai kopi susu. Kita tahu, minuman ini merupakan campuran antara kopi, susu, gula, dan air. Namun begitu dicampur jadi satu, keempat unsur tadi hilang dan menjadi satu rasa.

Begitu pula dengan kemajemukan masyarakat Amerika. Mereka terdiri dari beragam golongan dan ras yang datang dari luar Amerika, negro afrika misalnya. Namun budaya mereka telah membaur menjadi satu kesatuan. Bahkan kebudayaan asli cenderung hilang atau biasa disebut asimilasi. Berbeda dengan Indonesia, kemajemukan yang ada merupakan satu kesatuan yang tetap mempertahankan kebudayaan asli masing-masing suku, ras, maupun golongan.

Sangat berbeda kiranya antara kemajemukan Indonesia dan Amerika. Maka berbanggalah menjadi Indonesia, meskipun berasal dari keragaman yang unik di setiap budayanya, kita masih menjadi satu Indonesia, berdasarkan demokrasi kerakyatan yang menjunjung tinggi pancasila. (jm/pgsp)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s