182d7-122553576_02df367f07

The Upstairs dan Ivan Illich

122553576_02df367f07.jpg (359×357)

Enam hari berseragam
Rambutku telah mereka hancurkan
Menyita ragam cerita
Jelas sekali ku telah diredam

Kuberdansa resah
Diorbitkan rasa
Ke hampa udara
Tak terbersit hati
Untuk berhenti

Dipandang sebelah mata
Aku bukan urutan terdepan
Namun esok akhir pekan
Waktunya tuk melepaskan beban

Kuberdansa resah
Diorbitkan rasa
Ke hampa udara

Tak terbersit hati
Untuk berhenti

Tak terbersit hati
Untuk segera
Berhenti  

 
(The Upstairs-Dansa Akhir Pekan)
 
 
Lihat saja dalam waktu tertentu pada akhir pekan. Pusat keramaian di Jakarta seperti Senayan, menjadi pilihan para siswa sekolah menengah yang berasal dari kelas menengah untuk sekadar membunuh waktu. Pentas musik, sampai bazar pakaian, menjadi rutinitas wajib yang mesti dilakoni mereka. 
 
 
Bagi The Upstairs, melalui lirik lagu di atas. Hal itu merupakan representasi akumulasi perasaan resah para siswa dalam melakoni rutinitas bersekolah. Mereka (siswa kelas menengah) mencari bentuk ruang lain daripada yang ada di sekolahnya. 
 
 
Di Jakarta sendiri, ruang itu berupa arena hiburan sesuai dengan hobi mereka ataupun bentukan dari kebutuhan kapitalistik. Hal itu mewujud dalam bazar pakaian, yang cenderung menjadikan paradigma bahwa kebutuhan primer sesungguhnya adalah tren berpakaian. Kondisi ini juga didukung oleh idola-idola mereka yang sering tampil dalam pentas musik tersebut. Tak jarang sebagian dari mereka di malam harinya, mengisi pusat hiburan malam.
 
 
Sekali lagi, The Upstairs melihat ini sebagai sebuah fenomena umum yang diciptakan oleh kondisi sekolah. Lirik lagu,Dansa Akhir Pekan, ialah wujud dari sikap yang diambil oleh siswa kelas menengah sebagai bentuk kebebasan versi mereka. Ekspresi kebebasan siswa justru tergambar pada akhir pekan, bukan pada lembaga sekolah.
 
 
Fenomena Lembaga Sekolah
 
Apa yang coba digambarkan oleh grup band asal Jakarta itu seolah memaksa kita untuk kembali melihat arti dan keberadaan sekolah itu sendiri. Jimi Multhazam, si empunya lagu, melihat sekolah sebagai bentuk peredam kebebasan siswa. Siswa dipaksa mengikuti aturan  dan nilai bentukan sekolah yang cenderung positivistik, antara baik dan buruk. Bertolak belakang dari aturan yang dimiliki oleh siswa, berasal dari kondisi sosial empirik. Hal itu tergambar dari fungsi laten sekolah yang sering dianggap sebagai tempat penitipan anak, indoktrinisasi, dan tempat belajar satu-satunya.  
 
 
Sekolah adalah lembaga yang dibangun atas dasar anggapan bahwa kegiatan belajar adalah hasil dari kegiatan mengajar. Kebanyakan orang, menerima hal ini sebagai bentuk kewajaran. Padahal, sebagian besar yang diketahui siswa justru di luar sekolah. 
 
 
Ivan Illich pernah menyatakan bahwa semua orang belajar bagaimana bisa hidup justru di luar sekolah. Kita belajar berbicara, berfikir, merasa, mencinta, bermain, berpolitik, dan bekerja tanpa campur tangan guru. Sebaliknya, kejadian tawuran siswa yang menimpa anatara siswa SMAN 6 dan SMAN 70 Jakarta baru-baru ini. Di mana sekolah mengajari mencegah konflik, justru tidak bisa menjamin bahwa tawuran tersebut tidak terjadi. Syahdan, siswa nyatanya dipaksa mesti belajar asosiasi, interaksi sosial, dan konflik atas pengalaman empiriknya.
 
 
Dalam lagu tersebut, The Upstairs juga menyinggung sekolah sebagai ruang yang menyita seluruh waktu dan tenaga guru maupun siswa. Yang menurut Ivan Illich, akan memposisikan guru sekadar sebagai pengawas, penceramah, dan ahli terapi. Dengan peran-peran yang disebutkan ini, guru mendasarkan otoritasnya. Guru merasa diri berkuasa atas siswa.
 
 
Di bawah pengawasan guru yang penuh kuasa, beberapa tatanan nilai dilebur menjadi satu. Ini tergambar seperti yang disampaikan The Upstairs dalam liriknya. Seorang siswa laki-laki yang berambut gondrong adalah orang yang bertindak di luar aturan yang berlaku. Kriminal, secara moral rusak, dan rendah kepribadiannya. Maka dari itu bentuk pelarangan rambut gondrong digambarkan The Upstairs sebagai represi atas penyitaan beragam cerita. 
 
 
Kehadiran penuh dalam kelas juga telah mengasingkan siswa dari dunia kebudayaannya sehari-hari. Dan menenggelamkan mereka ke dalam lingkungan sekolah yang cenderung primitif, magis, dan sangat serius. Alhasil, siswa tidak dapat memahami apa yang sesungguhnya terjadi pada diri dan masyarakat di sekitarnya. Yang kalau diungkapkan oleh The Upstairs dalam bait liriknya, Kuberdansa resah Diorbitkan rasa Ke hampa udara@student_hijo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s