Pendidikan di Jagad Mafia

SDC16630+-+Copy.JPG (250×335)

Negeri para mafia, anggaran digelapkan, hukum dipermainkan, dan pendidikan diperjualbelikan.

Membicarakan masalah pendidikan (tinggi) di negeri ini seolah tak pernah berujung. Apalagi melerainya, kita pun kebingungan, mana buntut mana kepala, tak berpangkal pada satu sisi masalah. 

Kerap muncul masalah biaya dan sarana, berita di seputar masalah itupun sebatas korupsi dan kelayakan saja. Lagi-lagi masalah layaknya lenyap, hilang sebagaimana asap saat yang diajukan merupakan soal uang. Tak ada uang, sarana pun ala kadarnya.

Begitu ingin mengubah, masalah biaya mahal mencuat. Biasanya atas nama perbaikan sarana, biaya mahal dianggap sebuah kewajaran belaka. 

Pada titik inilah kritik diperbolehkan asal si pengkritik bisa mengajukan judul “kritik untuk membangun”, atau paling sering agar disertakan saran dan jalan keluar. Mahasiswa pun, sebagaimana biasanya mengkritik, gara-gara rambu demikian kian enggan mengajukan kritik.

Masalah biaya kuliah, klasik memang, antara mahal kualitas bagus ataupun murah namun murahan. Agak lucu memang, toh seharusnya penyelenggara negara mengemban melaksanakan konstitusi (Negara bertanggungjawab mencerdaskan anak bangsa).

Kali ini di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), sebagian mahasiswa meributkan kebijakan kampus yang menaikan ‘ongkos’ kuliah mahasiswa baru. Kabarnya, kenaikan tersebut hampir mencapai seratus persen. Wah!

Rektorat, saat menelurkan kebijakan itu tak mengajak bicara para mahasiswa. Tiba-tiba, rapat pimpinan antara para Dekan dan Rektor (katanya) sepakat menaikan ongkos masuk. Selesai.

Selesai di meja Rektor bukan berarti selesai di mata mahasiswa. Mereka (Mahasiswa) menolak karena kebijakan itupun sepihak, “Kita tidak diajak bicara,” kata Ketua BEM UNJ sewaktu bertemu dengan Rektor beserta para Dekan, Rabu (8/6).

Namanya sepakat, suara pimpinan kampus pun bulat, tak bisa digugat. Kata salah seorang Pembantu Rektor, kebijakan ini diambil sebagai langkah kampus guna menutupi biaya operasional. “Listrik, air, dan perawatan,” katanya merincikan biaya operasional tersebut.

Entah diam berpikir menolak atau mengerti, sebagai mahasiswa tak banyak pilihan. Satupun mahasiswa tak punya solusi menutup biaya yang hendak ditanggung kampus saat biaya masuk tak dinaikkan. Malang memang.

Pertemuan selesai, massa aksi yang terdiri dari beberapa elemen mahasiswa membubarkan diri. Pilihannya sekadar terus menolak, atau memaklumkan saja kenaikan.

Pangkal tolak tersebutlah yang kini mengganggu pikiran sebagian mahasiswa, apa solusi buat kampus? Andai anda pengkritik, siapkan pula alamat Perusahaan yang bisa memberi ratusan juta kepada kampus tercinta, atau tunjukan jalan agar keuangan kampus tak timpang.

Lantas pihak mana yang bisa menyapu kegelisahan orangtua mahasiswa baru di kampus ini. Rektorat dan Dekan sudah menjawabnya, mau syukur, tidak juga bukan masalah.

Kita juga mulai kebingungan menarik sehelai kain, ditarik satu sisi, sisi lainnya bakal terkoyak. Biaya dengan sarana ibarat kain kafan yang harus berlebih untuk menutup seonggok jasad.

Mencari pangkal di tengah obral masalah pendidikan, setidaknya kita mesti berangkat dari adanya relasi. Semua masalah saling melingkar, melilit, dan menyandera. Ketidaktahuan, ketidakbecusan, dan kekurangan telah menyulam permasalahan.

Kita perlu melemparkan kembali permasalahan kepada kitab suci negeri ini, konstitusi. Konstitusi secara garisbesar merupakan intisari sekian pengalaman sejarah, filosofi, dan tujuan pendidikan.

Konstitusi sebenarnya memberi harga mati kepada penyelenggara negara untuk menyediakan akses pendidikan bagi semua warga negara, tak pandang kaya-miskin, warna kulit, dan asal-usul budaya. Sejarah mengajarkan lewat pendidikan kemerdekaan bangsa diujudkan. 

Dari sudut filosofi, konstitusi mengamanatkan agar pendidikan mengamalkan nilai-nilai kemanusiaan, anti segregasi, anti diskriminasi serta bertujuan humanisasi kehidupan warga negara. Pendidikan ditempatkan amat luhur, sebagai kerja kebudayaan yang membudayakan manusia indonesia.

Kitab suci inilah yang hendak dipanggul para penyelenggara negara, secara politik kepada Anggota Dewan dan Presiden, secara birokratik kepada tiap institusi pendidikan. Nyatanya, konstitusi tinggalah cerita khayal, cita-cita muluk para pendiri negara, benarkah?

Sejenak beranjak pada relasi lainnya. Kala kampus tak menerima orang miskin kuliah, para pimpinan hanya mengatakan mereka terpaksa saja. Jangan mengkritik, beri solusi. Begitulah kilah mereka.

Namun demikian, jika tadi kita bicarakan tentang konstitusi dan praktek konstitusi, sekarang waktunya bicara sebuah hasil implementasi. Akibat ketidaktahuan, ketidakbecusan, dan kekurangan (dana), para pimpinan tak mau dipersalahkan. “Otonomi” Perguruan Tinggi dijadikan tempat persembunyian paling aman.

Salah mengelola negara, mafia melahirkan mafia-mafia baru, berantai mengular dari anggaran yang ditilap, pajak yang dikemplang, kekayaan alam yang dijual. Semuanya menabung masalah ke dalam pembangunan nasional, terutama dunia pendidikan.

Anggaran yang mengecil itupun cukup layak dijadikan bahan mengolah pandangan hidup manusia indonesia, kuliah-kerja, pragmatis-materialis, serba mencari kemapanan. Sebab utamanya hanya ada di biaya (kuliah) pendidikan yang terus melangit.

Pendidikan di jagat mafia, ceritanya pun mudah ditebak, bila hari ini mahasiswa UNJ tetap menolak kenaikan biaya masuk kuliah, maka tak lagi ada jalan bagi pimpinan, mendengarkan dan meluluskannya, atau menyumbat suara itu dengan cara apapun, tergantung sejauh mana ketidakbecusan, ketidaktahuan, dan kekurangan (dana) yang diperkirakan para pimpinan. Sekadar mengingatkan saja, mafia pastinya memiliki sejuta cara membungkam, kekuasaan dan keamanan terutama. Lawan!!!

Kahfi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s