2e697-1223139256973083060standingsoldiers-svg-hi

Lima Oktober

1223139256973083060standing+soldiers.svg.hi.png (600×275)
TNI bukan tentara rakyat
 
Tentara Nasional Indonesia (TNI) bukanlah anak zaman yang lahir untuk membebaskan rakyat dalam belenggu penindasan. Sebaliknya, menjadi penindas baru dalam rangka ajang balas dendam. Hal ini terlihat dari perilaku tentara, yang seharusnya melindungi kedaulatan republik. Yang terjadi, tentara yang hidup bersama rakyat malah menindas rakyatnya sendiri, dengan melakukan tindak represif.
Hal ini terlihat dari sederet peristiwa yang menodai nilai-nilai perjuangan bapak bangsa. Tentara yang semestinya menghargai dan melindungi HAM. Sebaliknya, merampas itu semua dari masyarakat. Kasus pembantaian jutaan manusia pasca meletusnya gerakan 30 September, juga pembantaian umat muslim Lampung dan Tanjung Priok. Adalah cerminan bahwa tentara yang selama ini hidup dari keringat rakyat, bukanlah tentara rakyat.
TNI bukanlah tentara rakyat, merupakan jawaban dari sejarah panjang terbentuknya angkatan bersenjata yang pada awal kelahirannya bernama Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pada awal terbentuknya, TKR merupakan sekumpulan elemen ketentaraan yang lahir semasa republik masih di bawah ketiak kolonialisasi. Tentu hal ini membawa republik pada perdebatan panjang untuk segera mengambil langkah membentuk lembaga ketentaraan guna menjawab kondisi pada waktu itu.
Lahirnya elemen ketentaraan pada masa kolonialisasi tak ubahnya hanya melanggengkan kekuasaan kaum kolonial di tanah Hindia. Tentara yang dibentuk pada masa itu hanya melayani kepentingan kaum kolonial. Ini terlihat ketika Belanda membentuk lembaga ketentaraan bernama Koninklijke Nederlands Indische Leger (KNIL).
Hadirnya KNIL adalah jawaban Belanda dalam memenuhi kebutuhan akan keamanan, dalam menjaga kekuasaanya agar tetap abadi. Selama diterapkannya peraturan sistem tanam paksa, terjadi pemberontakan rakyat di tanah hindia. Dari banten hingga ke timur ternate. Sampai pada perlawanan yang dilakukan oleh Pangeran Dipenogoro.
Untuk inilah Belanda melakukan rekruitmen dalam pemenuhan tentaranya di tanah jajahan. Kebanyakan, orang pribumi yang mendaftarkan diri menjadi KNIL berasal dari kelas proletar. Mereka masuk tentara, lebih didorong untuk memenuhi nafkah bagi hidupnya sehari-hari. Ditengah prilaku kaum kolonial Belanda yang banyak merampas tanah milik kaum pribumi.
Selama ada pemberontakan atau perlawanan yang dilakukan oleh kaum pribumi. Disini KNIL menjalankan tugasnya sebagai penegak rust en orde. Tindak represif berupa pemukulan, penangkapan, bahkan pembunuhan masif dilakukan KNIL. Meskipun KNIL itu berasal dari kaum pribumi, hal itu wajib dilakukan. Jika tidak, mereka akan kehilangan nafkah.
Belakangan KNIL dilirik oleh sejumlah kaum pribumi yang berasal dari kelas aristokrat. Macam A.H Nasution dan T.B Simatupang pernah terdaftar menjadi anggota KNIL. Yang kemudian KNIL merubah dirinya menjadi tentara profesional. Beberapa tentaranya dikirim ke negeri Belanda untuk belajar teknik dan administrasi kemiliteran.
Saat meletusnya perang pasifik, kedudukan Belanda di tanah Hindia terancam. Hingga pada tahun 1942 tentara Jepang berhasil memasuki Hindia. Beralihlah kolonialisasi Belanda ke tangan fasis Jepang.
Segera, pemerintahan fasis Jepang melucuti semua hal yang berbau Belanda. Termasuk KNIL, yang pada masa Jepang dibubarkan. Untuk membantu Jepang dalam perang pasifik. Pemerintah fasis Jepang melakukan rekrutimen dan kemudian membentuk PETA, Pembela Tanah Air.
Jauh nama juga jauh dari harapan. Kaum pribumi yang mendaftarkan dirinya ke dalam PETA tidak mempunyai motif untuk bela negara. Melainkan dendam untuk melucuti tentara Belanda yang masih tersisa di tanah Hindia.
Pelatihan yang diberikan Jepang pun seadanya. Jepang tidak berfikir jauh untuk menjadikan PETA sebagai tentara profesional. Hal yang terpenting bagi mereka adalah, menyebarkan doktrin fasis. Pokoknya, segala yang berbau barat adalah jelek, merugikan dan merusak.
TKR dulu, baru TNI
 

Kemudian pada Agustus 1945, republik memproklamirkan diri menjadi sebuah nation-state. Kebutuhan akan tentara segera dijawab oleh Sukarno yang menjabat sebagai presiden pertama republik. Berdasar pada maklumat pemerintah tertanggal 5 Oktober 1945, dibentuklah TKR. Yang tentunya mempunyai fungsi menjaga kedaulatan republik.
Pertarungan hegemoni berlangsung ketika beberapa pihak tidak setuju dengan lahirnya TKR. Tentara eks-KNIL menuduh bahwa tentara eks-PETA dan lasykar tidak pantas untuk masuk ke dalam TKR. Dengan alasan bahwa kedua elemen ketentaraan tersebut tidak profesional. Sebaliknya, tentara eks-PETA menuduh tentara eks-KNIL dan lasykar sebagai tentara bayaran. Meskipun masih terdapat konflik, akhirnya tentara eks-KNIL dan eks-PETA masuk ke dalam resimen reguler.
Lahirnya TKR yang kemudian bertransformasi menjadi TNI. Tentu, rakyat menaruh kepercayaan penuh akan kedaulatan, keamanan, serta ketertiban kepada TNI. Hari ini rakyat berharap, tidak ada lagi tentara yang berwatak KNIL. Yang rela melakukan tindak kekerasan terhadap sesamanya. Ataupun mereka, tentara yang hari ini masih berjiwa fasis. Masih mencerminkan dirinya bukan sebagai pembela tanah air. Rasa kebencian, penghasutan dan pemfitnahan adalah model fasis yang dapat dibaca pada tentara yang hari ini berlaku seperti itu.
Kiranya perlu dilakukan pembersihan di dalam tubuh TNI jika masih terdapat sisa-sisa tentara eks KNIL dan PETA. Sebab ketika mereka masih berada di dalam tubuh TNI. Tidak dapat dihindari, tentara kembali dapat melakukan politik praktis. Yang terjadi beberapa tentara yang hidup pada zaman otoritarian Suharto (eks-PETA) dapat dengan bebasnya melakukan tindak represif.
Momentum peringatan hari lahir TNI seharusnya dilakukan dengan merefleksi perjalanannya. Bahwasannya, tidak mungkin TNI sebagai tentara rakyat tega berbuat kejam terhadap sejumlah petani di Kebumen. Juga penyikapan akan datangnya ancaman dari luar. Sengketa pulau dengan Malaysia, adalah ancaman serius bagi keberlangsungan kedaulatan republik. Jika tidak segera berbenah, mungkin rakyat akan membentuk tentaranya sendiri. @student_hijo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s