65d2a-12968970161904924686_300x400

Tembakau Bukan Objek Pelengkap Penderita

12968970161904924686_300x400.jpg (300×400)

Wahai engkau yang menyangka#Banyak amal dan ilmu
Yakni ummat Muhammad#Yang mengharamkan tembakau
Pradugamu atas apa yang kukata#Sungguh keliru

Sungguh, mereka yang benar berilmu#Takkan mengharamkannya
Tidak pula mereka#yang ahli meneliti dan menyimpulkan

Sayang, diantara mereka#banyak yang tidak tahu sifat tembakau
Gegabah pula menganggapnya kotor#dan melempar caci
(Syaikh Abdul Al-Ghani an-Nabilisi)

I smoke two joints in the morning
I smoke two joints at night,
I smoke two joints in the afternoon
and it makes me feel alright
I smoke two joints in time of peace
and two in time of war

Aku merokok dua batang di pagi hari
Aku merokok dua batang pada malam hari
Aku merokok dua batang di sore hari
dan itu membuat saya merasa baik-baik saja
Aku merokok dua batang di masa damai
dan dua batang pada saat perang
(Bob ‘Smoke’ Marley)

Tembakau: Terdakwa Tanpa Pembelaan

Dalam pengantar buku Kitab Kopi dan Rokok karangan Syaikh Ihsan Jampes ditulis bahwa setiap manusia di bumi ini, semenjak mereka belum mengerti apa-apa sudah dicekoki citra negatif rokok; oleh orang tua, guru, para dokter maupun iklan layanan masyarakat. Citra negatif rokok sebagai salah satu hasil olahan tembakau menjadi doktrin. Kebenarannya tunggal, tidak bisa dibantah dan digugat. Pendapat yang menyatakan bahwa tembakau yang diolah dengan cengkeh kemudian menjadi rokok merupakan produk dari kejahatan yang merugikan tersebut sudah menjadi dogma yang memberhala. Tidak ada pendapat lain yang mencoba menjelaskan manfaat dari tembakau. Jika diperhatikan dengan seksama, produk apakah di dunia ini yang didalam dirinya tercantum citra negatif dirinya sendiri?

Tidak tanggung-tanggung, doktrin yang mencitrakan dampak negatif dari tembakaupun melekat disemua kemasan hasil olahan tembakau. Adakah peringatan akibat kurang baik dari membeli makanan cepat saji yang ditempelkan ditiap kemasannya? Adakah himbauan dampak negatif ketika kita membeli produk otomotif kalimat “MEMBELI MOBIL DAPAT MENYEBABKAN POLUSI UDARA, KEMACETAN, PEMANASAN GLOBAL dan GANGGUAN PERNAPASAN” yang terpampang di kaca belakangnya? Tembakau dan rokok sebagai hasil olahannya menjadi objek yang paling menderita. Ia hadir tanpa dirinya lagi, objektifitasnya hilang. Yang ada hanya ‘citra’nya saja yang negatif dan merugikan.

Padahal, tembakau dan hasil olahanya (kretek-rokok) selama ini telah memberikan kontribusi cukup besar terhadap ekonomi nasional. Dari sisi hulu sampai hilirnya, industri tembakau atau rokok menyerap Tenaga Terlibat Langsung (TTL) sebesar 6,1 juta pekerja. Dengan dikeluarkannya Rencana Peraturan Pemerintah (RPP) Penanggulangan Dampak Tembakau, tembakau nasional semakin terpojok. Dikeluarkannya RPP Penanggulangan Dampak Tembakau semakin memantapkan kampanye global anti tembakau yang selama ini sudah digalakkan oleh banyak kalangan. RPP ini akan memposisikan pertembakauan (pertanian, industri dan perdagangan tembakau) sebagai sesuatu yang tidak kalah jahatnya dari perdagangan obat bius atau praktek jual beli senjata ilegal. Benarkah industri rokok, bisnis tembakau, dan sekaligus para perkokok sejahat itu?

Yang menyakitkan ialah kriminalisasi terhadap para perokok. Sekarang ini, perilaku merokok dianggap sebagai wabah kerusakan global dan pembunuh nomor satu. Padahal, tradisi mengkonsusmi tembakau (seperti nginang sampai merokok) sudah berlangsung berabad-abad lalu, dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Lucunya lagi masyarakat dengan mudah menerima dan mempercayai kampanye tersebut tanpa telaah kritis. Seolah, rokok jauh lebih jahat dari konflik sosial, depresi ekonomi, eksploitasi ekonomi, kemiskinan, perang, atau hal lain yang lebih banyak membunuh manusia. Rokok bukan penyebab utama penyakit jantung, melainkan kemiskinan dan pengangguran.

Kepentingan Kapitalisme Internasional yang Bersembunyi di Balik Alasan Kesehatan 

Dalam buku Nikotine War Perang Nikotin dan Para Pedagang Obat karangan Wanda Hamilton (Insist Pers 2010) menyatakan bahwa kampanye penanggulangan dampak tembakau adalah kebohongan yang terselubung. Kampanye tersebut merupakan rekayasa perusahaan farmasi berskala besar yang meng-cover kepentingan kapitalisme internasional. Dalam buku yang diterjemahkan oleh Sigit Djatmiko tersebut juga dipaparkan berbagai dokumen, hasil riset, dan temuan-temuan akademik yang membuktikan bahwa nikotin (dalam tembakau) tidak benar-benar seluruhnya jahat seperti yang diketahui publik selama ini, melainkan justru menyimpan berbagai potensi. Buku tersebut juga kurang mendapat perhatian publik sebagai satu referensi yang mengetengahkan pendapat dan fakta lain tentang pertembakauan. Wajar jika respon publik terhadap hasil riset 10 tahun Wanda Hamilton rendah, mengingat kampanye anti rokok lebih massiv kerena mendapat dukungan penuh dari WHO, industri farmasi global, organisasi-organisasi medis dan rezim pemerintahan di berbagai negara.

Jika mengikuti konsepsi yang W. Hamilton, maka dukungan terhadap pertembakauan nasional dilatari alasan-alasan berikut: Pertama, kampanye bahwa nikotin (dalam tembakau) merusak kesehatan, adalah publikasi sesat yang sengaja dirancang oleh berbagai industri farmasi besar berskala internasional. Kedua, bukan hanya kampanye, tetapi industri farmasi berkolaborasi dengan WHO dan pemerintah di berbagai negara untuk dengan sengaja membunuh industri tembakau nasional secara pelan tapi pasti —agar industri farmasi dapat secara bebas memanfaatkan nikotin bagi obat-obatan produksinya. Ketiga, ujung dari pemberlakuan RPP Penanggulangan Dampak Tembakau ini ialah motif ekonomi; menjual obat-obatan anti rokok, dalam bentuk permen, koyo dll.

Banyak penelitian membuktikan bahwa sebenarnya nikotin memiliki potensi untuk dimanfaatkan secara medis, terutama dalam merawat penyakit-penyakit tertentu. Para pakar mengetahui bahwa nikotin dapat meningkatkan konsentrasi dan kontrol syaraf motorik, meningkatkan ambang batas rasa nyeri, dan dapat dipakai untuk penderita Alzheimer dan Parkinson. Masalahnya, nikotin tak dapat dipatenkan (untuk dimonopoli), karena terkandung secara alami dalam tembakau, tomat dan beberapa sayuran lain. Yang dapat dipatenkan hanyalah senyawa pengantar nikotin (dan ini dipakai untuk industrialisasi obat-obatan anti merokok seperti permen, inhaler, pil, obat tetes dan koyo.

Perang anti tembakau juga bergerak di ruang ekonomi-politik dengan menggunakan kekuasaan diwilayah regulasi-pengambilan kebijakan. Misalnya dengan menaikkan pajak tembakau, melekatkan cap jahat terhadap industri tembakau, propaganda pemerintah dengan mewajibkan semua kemasan rokok mencantumkan dampak negatif di kemasannya. Ha ini sama halnya dengan memposisikan tembakau sebagai bagian dari narkotika dan yang ketiga dengan mempromosikan terapi berhenti merokok sebagai dalih berjualan obat penghenti dan pengganti rokok.

Dikeluarkannya RPP Anti Tembakau oleh pemerintah justru bertolak belakang dengan fakta bahwa di Indonesia industri tembakau memberi pajak jauh lebih besar daripada perusahaan tambang, dan menghidupi 6 juta lebih petani tembakau. Fakta berikutnya ialah Indonesia swasembada tembakau. Seharusnya ini menjadi peluang dan kekuatan ekonomi nasional ketika saat tidak ada produk nasional lain yang swasembada, jangankan beras nasional, garam saja Indonesia tidak swasembada dan harus mengimpor dari luar negeri. Yang menyedihkan, ditengah masifnya kampanye anti tembakau, jumlah impor tembakau justru meningkat. Bahkan, rokok impor yang ke Indonesia pun mencapai angka 520.000 ton per tahun.

Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa nikotin yang terdapat dalam tembakau itu dilarang untuk diolah menjadi rokok tetapi kemudian diolah menjadi nikotin alternatif yang diduga berhasil sebagai alat bantu berhenti merokok maupun obat untuk aneka penyakit?? Menurut Jack Henningfeld (ahli farmakologi) nikotin merupakan zat kimiawi yang mencengangkan. Menurut John Josselyn; tembakau ternyata dapat melancarkan pencernaan, meringankan encok, sakit gigi, mencegah infeksi melalui bau-bauan. Tembakau juga mempunyai sifat menghangatkan sekaligus menyejukkan mereka yang berkeringat, menimbulkan rasa kenyang bagi yang kelaparan, memulihkan semangat yang loyo, mencegah nafsu makan juga membunuh kutu rambut dan telurnya. Tumbukan daun hijaunya, meski beracun dapat menyembuhkan luka akibat sakit gangren. Tembakau juga bisa dibikin sirup untuk aneka penyakit, bisa dijadikan asap untuk sakit tuberkolosis, batuk paru-paru juga diupakan untuk sakit reumatik.

Karena alasan itulah mengapa perusahaan farmasi tersebut gencar melakukan riset-penemuan untuk mengendalikan produk olahan tembakau. Berikut ini adalah upaya dan strategi yang dilakukan perusahaan farmasi internasional melakukan tekanan melalui kerjasama dengan lembaga kesehatan publik untuk program anti tembakau (W. Hamilton 2010:6); Pertama, dengan menaikkan pajak tembakau sehingga harga produk-produk lebih kompetitif dibandingkan produk tembakau. Kedua, melabeli semua industri olahan tembakau sebagai produk kejahatan. Ketiga, memberlakukan larangan merokok untuk memaksa perokok agar berusaha berhenti merokok dengan menggunakan produk-produk farmasi atau memakai produk-produk pengganti nikotin sebagai penyulih di saat mereka tak dapat merokok. Keempat, mengkampanyekan berhenti merokok dan penanganan kecanduan nikotin dengan mempromosikan rangkaian penanganan lengkap bagi kecanduan nikotin melalui asuransi kesehatan negeri maupun swasta.

Tidak hanya itu, upaya dan strategi yang dilakukan oleh mereka-pun sampai pada kebijakan yang mengatur dan membatasi para petani tembakau dan cengkeh. Para petani tersebut diminta (dipaksa dengan undang-undang) untuk mengganti jenis tanaman mereka. Pengalihan tanaman oleh pemerintah ini jelas melanggar hak petani untuk bebas menanam tanaman apapun yang menguntungkan mereka. Aturan ini pun mewarisi semangat tanam paksa zaman kolonial dimana para petani hanya diperbolehkan menanam tanaman tertentu yang laku dipasaran atau dilarang menanam tanaman jenis tertentu lainnya.

Menyelamatkan Tembakau, Menyelamatkan Ekonomi Nasional

Tanggal 31 Mei diperingati sebagai hari Anti Tembakau Dunia. Setiap tanggal 31 Mei sejak disahkan pada tahun 1980, diseluruh dunia semua elemen masyarakat yang memberhalakan dogma negativ rokok memperingatinya dengan menyerukan kampanye anti rokok. Setiap 31 Mei secara resmi pemerintah melalui menteri kesehatan menghimbau untuk tidak merokok selama satu hari. Mahasiswa turut memperingatinya dengan membagikan bunga, atau ikatan dokter-ahli medis mengadakan seminar dengan tema penanggulangan dampak tembakau.

Meski miskin informasi tentang pertembakauan, orang-orang dari segala umur mulai mendukung aksi kampanye dengan berbagai cara. Siapa yang diuntungkan dari kampanye anti rokok dan pemberlakuan RPP Penanggualngan Dampak Tembakau? Siapa yang dirugikan oleh kampanye anti rokok dan pemberlakuan RPP Penanggulangan Dampak Tambakau?

Saya kira kita bisa memulainya dari pertanyaan tersebut. Sehingga anasir negatif yang memposisikan tembakau sebagai objek tertuduh penyebab terjadinya sekian banyak masalah sosial, kesehatan, ekonomi dapat kita bongkar. Pertama, berapa banyak jumlah petani tembakau dan cengkeh di Indonesia yang akan kehilangan pendapatannya ketika RPP Penanggulangan Dampak Tembakau dijalanakan. Berapa banyak buruh rokok yang akan kehilangan pekerjaan karena pabrik tempat mereka bekerja terpaksa gulung tikar? Pedagang asongan pun akan terkena dampak dari regulasi titipan asing tersebut, sumber pendapatan mereka yang salah satu pemasukannya didapat dari penjualan rokok akan ikut menurun.

Ide Bagus Arief Setiawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s