Tembakau Dilibas Kapitalisme Global

Gambar

Rokok tak lepas dari tembakau. Tepat pada hari ini, 31 Mei, adalah Hari Anti Tembakau Internasional. Kelompok masyarakat anti tembakau di seluruh dunia mengkampanyekan larangan merokok. Begitu pun di Indonesia. Bahkan, DPR berusaha mengesahkan RUU Pengendalian Produk Tembakau, sebagai bentuk sikap laragan merokok.

Rancangan Undang-Undang Pengendalian Produk Tembakau sarat berbagai kepentingan asing. Pemerintah makin didikte oleh pengaruh kepentingan negara-negara maju yang merepresentasikan rezim kapitalisme global. Secara lebih tegas, rezim kapitalisme internasional ingin menguasai pemerintah dan parlemen di tataran kebijakan, terutama di bidang legislasi. 

Upaya pendiktean kapitalisme global sebenarnya dilakukan tidak hanya di tataran legislasi. Mekanisme di luar sistem perundangan juga telah dipengaruhi rezim tersebut. Misalnya pembelian saham PT Sampoena oleh Phillip Morris yang dinilai merupakan bagian dari upaya pencaplokan aset nasional oleh perusahaan asing.

RUU Pengendalian Produk Tembakau ini sebenarnya telah digagalkan DPR RI periode 2004-2009. Namun, Panja DPR sendiri telah memutuskan untuk merevisi kembali RUU tersebut. Akhirnya, RUU tersebut masuk ke dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2010.

Saat ini, RUU Pengendalian Produk Tembakau masih dibahas di Badan Legislasi (Baleg) DPR. Anggota fraksi di DPR saling adu kepentingan untuk meloloskan RUU tersebut. Banyak fraksi yang hanya melihat tembakau sebagai barang yang menimbulkan efek negatif bagi kesehatan semata. Namun, mereka tak melihat kepentingan petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, bahkan pedagang asongan, perokok, industri nasional, dan kepentingan hajat hidup orang banyak. Kepentingan sekian banyak orang pastinya akan dilibas oleh kepentingan kapitalisme global, jika RUU itu disahkan menjadi undang-undang. Jelas, epentingan rakyat harus dilindungi oleh ketentuan perundang-undangan.

Ada partai atau fraksi tertentu dengan alasan agama mengharamkan orang merokok. Ini harus dikritik! Agama bukan menjadi alat untuk menjustifikasi faktor boleh tidaknya orang merokok.

Perlu diketahui, industri tembakau merupakan penyumbang pendapatan negara yang cukup besar, baik di negara berkembang maupun di negara maju. Berdasarkan catatan FAO, pasar tembakau dunia hingga tahun 2012 mendatang, diproyeksikan mencapai 464,4 miliar dollar AS. Jika diibaratkan APBN suatu negara, maka pendapatan sebesar itu akan menempatkan negara tersebut berada diurutan ke 23 sebagai negara dengan PDB terbesar di dunia.

Besarnya pendapatan dari rokok memicu terjadinya persaingan dalam merebut pasar rokok dan pasar nikotin dunia. Negara berkembang dan negara maju pun saling berkompetisi merebut pasar rokok dan produk olahan tembakau dengan perusahaan farmasi dalam merebut pasar nikotin. Inilah yang menimbulkan larangan merokok dan pengetatan konsumsi rokok, melalui UU Pengendalian Produk Tembakau atau Rokok, salah satunya diduga untuk kepentingan perusahaan farmasi.

Di masyarakat internasional, telah muncul rezim tembakau global. Mereka berdiri di atas organisasi dunia yang bernama Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Hasil keputusan FCTC ini kerap kali dijadikan rujukan WHO (Organisasi Kesehatan Dunia di bawah naungan PBB), dalam membuat keputusan yang mengikat. Namun, FCTC dinilai justru berpihak pada alasan kesehatan. 

Dengan begitu, ada pihak yang diuntungkan yaitu perusahaan farmasi dalam merebut pasar nikotin. Keterlibatan perusahaan-perusahaan besar farmasi pada isu pengendalian tembakau yaitu karena kontribusinya dalam menemukan dan memasarkan produk pengganti nikotin, yaitu Nicotin Replacement Therapy (NRT). Produk ini berfungsi untuk terapi perokok menghentikan kebiasaannya.

@primagumilangsp

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s