65004-img_2513

Narasi Sumpah Pemuda

IMG_2513.JPG (1600×1200)
Proyek politis yang terbengkalai
 
Pada tahun 1957, Indonesia tengah berada dalam masa krisis politik. Kala itu kondisi kabinet pecah dalam sentimen kedaerahan. Pemberontakan-pemberontakan di daerah pun mulai bermunculan. Di antaranya Sumatera dan Indonesia bagian Timur.
 
Pada pertengahan tahun berikutnya, pemilihan perwakilan di daerah-daerah semakin memperkuat posisi Partai Komunis Indonesia (PKI) dan klaim legitimasinya dalam hubungan kerjasama yang mesra dengan Soekarno. Sebuah bentuk radikalisme baru pun mulai, memberi ciri pada ekspresi persatuan nasional yang berasal dari Jakarta.
 
Dalam tebitannya pada tahun 1957, Harian Rakjat menjelaskan bahwa telah terjadi arak-arakan pemuda di jalan Ibukota Jakarta pada malam Hari Sumpah Pemuda. Dan Soekarno memakai ini sebagai sebuah serangan terhadap simpatisan daerah. Dalam pidatonya Soekarno bicara dengan lantang. Bahwa siapapun yang menghidupkan semangat federalisme dan kedaerahan, adalah musuh rakyat yang tidak setia dengan cita-cita proklamasi.
 
Tahun berikutnya, pada perayaan Sumpah Pemuda 1958. Skala perayaannya juga ditambahkan dengan dimensi kesadaran terhadap sejarah. Harian Merdeka pada waktu itu menggambarkannya di laporan pembuka. Dinyatakan bahwa tepat pada pukul 08.00 pagi hari, di kantor-kantor pemerintah, pabrik-pabrik, sekolah-sekolah. Perayaan Sumpah Pemuda dilakukan dengan meriah dengan pembacaan puisi, dan malamnya puncak dari acara itu dilaksanakan di Istana Kepresidenan.
 
Ketika Presiden Soekarno berbicara pada malam perayaan Sumpah Pemuda di Istana Kepresidenan. Sumpah pemuda telah berkembang menjadi “janji suci” atas komitmen terhadap sebuah negara kesatuan. Pemberontakan lokal yang menamai dirinya PRRI-Permesta serta ancamannya terhadap negara kesatuan impian Soekarno, mulai kehilangan pengaruhnya. Sumpah pemuda seakan menjadi senjata ampuh Soekarno. Kemudian sumpah pemuda bermetamorfosis menjadi simbol kemenangan atas pergerakan tersebut.
 
Andai tokoh yang pro federalisme hadir malam itu. Bisa dipastikan, dia terbakar dengan pidato Presiden Soekarno yang berapi-api dan siap melahap musuh politiknya yang mengancam status quo. Presiden Soekarno tidak sungkan menyebut mereka di depan umum sebagai pengkhianat. Harian Merdeka menulis ulang pidato Presiden Sukarno dengan penutup. Supaya para pengkhianat (pro federalisme dan kedaerahan) meminta ampun pada Tuhan karena telah mendurhakai sumpah pemuda 1928 yang keramat itu.
 
Kemudian pidato Presiden Soekarno pada perayaan Sumpah Pemuda dijadikan pijakan penyebar semangat  anti-imperialisme oleh D.N. Aidit, selaku ketua PKI masa itu. Sebagai sebuah nasion, kata Aidit dalam terbitan Harian Rakjat, tidak peduli apa agama, keyakinan politik dan golongan. Nasion kita adalah nasion yang berjuang, anti-imperialisme, patriotik dan demokratis.
 
Tulisan Aidit segera ditangkap oleh Yamin. Yamin, yang saat itu berada dalam lingkaran elite kekuasaan, menjadikan sumpah pemuda sebagai tindakan final dalam karir politiknya. Yaitu, pengambilalihan secara paksa Irian Barat dalam dekapan kolonialisme Belanda. Yang kemudian oleh Indonesia, Irian Barat menjadi proyek nasionalisasi dalam program anti-imperialisme pada masa pemerintahan Presiden Soekarno waktu itu. Dan berhasil, secara de jure pada tahun 1963 Irian Barat menjadi (milik) Indonesia.
 
Tahun berganti, sumpah pemuda pada masa Presiden Soekarno tidak berhenti pada perayaan saja. Melainkan menjadi sebuah kampanye politik yang berisi visi Presiden Soekarno atas Indonesia. Sejak gerakan anti kedaerahan pada tahun 1958 dan penolakan terhadap kebudayaan “ngak ngik ngok” barat yang populer pada tahun 1959, terjadilah perubahan terhadap perayaan Sumpah Pemuda. Sejak tahun 1960-an, sumpah pemuda dipakai untuk mengingatkan pemuda Indonesia dan masyarakat politik secara luas akan peran mereka dalam penerapan kampanye politis yang dirancang untuk menyatakan kebesaran bangsa. Oleh karena itu, pada tahun 1960, Presiden Soekarno memasukan hari Sumpah Pemuda ke dalam proyek Manipol Usdek.
 
Sumpah Pemuda, Hilang Arah
 
Gerakan 30 September beserta akibatnya. Telah membawa Indonesia ke dalam jurang perang saudara. Tahun-tahun setelah 1966, diwarnai dengan pengkhiatan atas kemanusiaan yang dilakukan secara sistematis dan terencana. Proyek politis Presiden Soekarno kemudian buyar. Tampuk kekuasaan Indonesia pada tahun 1967 secara inkonstitusional berpindah ke tangan seorang tentara bekas PETA, Soeharto.
 
Pada masa dialah kemudian sumpah pemuda menjadi sebuah simbol yang kaku. Tidak ada pencerdasan politik, guna membangun semangat gerilya rakyat untuk membangun bangsanya yang mandiri. Serta bebas dari tekanan kepentingan asing. Yang dalam kenyataan cenderung sangat eksploitatif.
 
Tahun 1988, tepat pada perayaan 60 tahun Sumpah Pemuda. Sejumlah pemuda yang menamai dirinya “mahasiswa” merayakan Sumpah Pemuda dengan mengganti semboyan sumpah pemuda versi asli. Menjadi bertanah air tanpa penindasan, bangsa yang gandrung akan keadilan, dan bahasa kebenaran. Adalah sebuah ekspresi atas kondisi sosial politik serta sosial ekonomi yang menimpa Indonesia pada masa-masa itu.
 
Mereka menggambar kalimat itu di dinding-dinding, spanduk, dan kaos. Dengan tujuan sebagai simbol ketidakpuasan atas keadaan yang menimpa rakyat Indonesia. Hingga pada tahun 1998, kalimat itu berhasil menjadi gairah tersendiri bagi para pemuda yang mengatasnamakan “mahasiswa” dalam mengambil sikap. Atas akumulasi penderitaan rakyat yang berakhir pada undur dirinya Soeharto dari lingkaran kekuasaan Indonesia.
 
Mereka memang tidak membuat skema bahwa sumpah pemuda adalah proyek politis. Melainkan sekadar menjadikannya sebagai senjata dalam mengisi momentum sebagai jawaban atas tindakan represif yang terjadi masa itu. Lebih tepatnya disebut sebagai euforia atas onani intelektualitas. Biar pun begitu, mereka mampu memberikan warna lain pada masa itu yang sangat terkesan homogen.
 
Tentunya bukan romantisme, kalau sekarang kita menginginkan sumpah pemuda sebagai proyek politis. Yang kemudian proyek itu mesti disusun rapi atas pembacaan kondisi sosial rakyat kekinian. Yaitu, kemiskinan semakin meluas, upah buruh yang tidak layak, petani sulit mengkases tanah. Dan proyek besarnya tetap pada mewujudkan kedaulatan penuh atas tanah Indonesia sendiri.
 
Hal ini jelas merujuk pada tahun 1963 ketika Indonesia bernafsu merangkul Irian Barat ke pangkuan ibu pertiwi. Indonesia kini, mesti bertanggung jawab menciptakan kesejahteraan di tanah Irian Barat dengan mengambil sikap tegas atas eksploitasi yang terjadi di  sana. Kekinian sumpah pemuda mesti kembali menjadi proyek politis yang bertujuan menasionalisasi aset asing. Atas dasar keuntungan yang mereka dapatkan, berakibat pada penderitaan rakyat yang tidak kunjung terselesaikan. @student_hijo
About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s